Tampilkan postingan dengan label Suara Hati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Suara Hati. Tampilkan semua postingan

16 Desember 2009

Hujan Di Musim Desember

Sejenak Aku berpikir seperti kerbau di cocok hidungnya. Aku tak biasa menghadapi hal yang seperti ini. Juga tak pernah sudi menanggung resiko-resikonya. Namun, entah di nyana hal itu rupanya terjadi juga kepada Aku. Aku hanyalah manusia biasa yang sama seperti lainnya. Bukan manusia super layaknya Superman, Spiderman, Batman dan semua manusia super yang lainnya dalam tokoh utama sekuel film-filmnya. Mungkin semua orang sudah tahu siapa Aku sebenarnya. Dan tidak menutup kemungkinan ada juga yang tidak tahu tentang Aku. Ya, itu semua bagi mereka yang tertutup mata hatinya dari kenyataan yang ada. Andai mereka tahu siapa Aku yang sebenarnya, andai mereka mengerti dan memahami Aku yang sesungguhnya, pasti mereka  tidak bakalan menganggap Aku seperti ini. Hati Aku sakit merintih-merintih. Aku coba mencari obatnya dari satu tempat ke tempat yang lain. Hingga seluruh dunia Aku jelajahi. Dari ujung utara sampai ujung selatan. Dari ujung rambut sampai ujung kaki. Tapi itu semua nihil. Tak ada satu pun obat yang Aku temukan dan dapatkan. Akhirnya, Aku pun pasrah dan terima kenyataan yang ada. Ya, walaupun luka di hati Aku semakin menganga dan terus-menerus dikoyak-koyak oleh mereka. Aku hanyalah seorang manusia yang bodoh pikir Aku. Dan Aku pun terima dengan ikhlas.

11 Desember 2009

Dialog Hati


Malam itu..
Tadi malam, kamu tahu nggak ?!
Sekujur tubuhku beku kaku
Merintih, lalu meronta-ronta tak sadarkan diri
Berharap cemas bagai sakaratul maut
Menanti kilau putih permata hati;
Dan selalu kurindui
(*
Dingin kali ini membuatku gelisah, tiada henti
Jiwa yang beku tak berdaya ini semakin;
Terseret dibawa derasnya aliran sungai
Setiap kali terbentur dengan bebatuan cadas
Selalu merintih-rintih
Auuuh….
Ouch…..
Aduhh…..!

Lekaslah !
Lekaslah, kau berbenah diri !
Tinggalkanlah, sejak dini !
Sebelum waktu bergulir lebih jauh
Agar engkau tak merugi
Lekaslah, kau berbenah diri !
Buanglah, sejak dini !
Getirnya sakit hati yang kau ratapi
Berganti cinta yang suci putih
Lekaslah, kau berbenah diri !
Kerjakanlah, sejak dini !
Beramal sejati, berilmu luas
Dengan taringmu yang sekuat baja
Lekaslah, kau berbenah diri !
Gapailah, sejak dini !
Badan kaya, rohani pun sehat
Nafsu
Saat tiba waktunya
Aliran darah pun memuncak
Keinginan untuk bisa memiliki
Dan memang harus dimiliki
Bila nafsu menguasai hati
Pastilah manusia kan terbohongi
Oleh cara licik yang ditempuhnya
Biar saja!
Semua orang membenci
Asalkan nafsu terpenuhi
Akan bahagia dengannya
Karenanya hidup ini berseni
Kenikmatan sesaat
Ya, memang rasanya enak
Sungguh sangat nikmat
Biarlah itu berlalu
Lelah, kuakhiri ini..
Penantian panjang nan berliku
Demi satu tekad
Yang harus terpenuhi
Ah, biarlah itu semua berlalu
Luka itu…
Deru air mata ini…
Seakan tertumpah tiada penghalang
Mengingat kisah itu,
Mulutku terbungkam membisu
Air mataku pun luluh bagai abu
Menggores luka kelam kelabu
Namun…
Aku tak kuasa menolongnya
Menghindarkan dirinya dari luka itu
Aku hanya bisa terpana menyaksikannya
Membiarkan dirinya terkena luka itu
Maafkan aku…ibu…..
Maafkan aku…ibu….
Fenomena fajar
Fajar menyingsing
Kumandang adzan shubuh menggema
Kokokkan ayam jago pun ikut meramaikan
Suasana pagi ini
Sekelompok manusia sedang asyik bersiap diri
Mengenakan sarung dan kopiah putih
Tak terkecuali sorban panjang warna hijau
Pergi berduyun-duyun menuju rumah harapan
Dan kedamaian
Bertekadkan satu niat lillahita’ala

Prenduan, 11 Agustus 2009 M.

10 Desember 2009

Secuil Isi Hati


Janji Sang Sariboni
Oh…Ibuku…
Alunan kasihmu tak kan pernah
Ku lupakan
Walau berjuta rintangan menghadang
Ku kan terus bertahan
Oh…Ibuku…
Getaran dawai hatimu
Mencerahkan duka di sanubariku
Dari segala pedihnya kehidupan

Kantor Niha’ie, 10 Desember 2009 M.

Derail-derai kerinduan
Habislah tuhan…
Kini ku berada di ujung kematian
Setelah, ku jalani rangkaian kehidupan
Yang terkadang manis juga terkadang pahit
Dan kini…
Berakhir pula masa usiaku
Tinggal menunggu “kapan ia datang?”
Ku bertanya dalam hatiku
Sudahkah kau siap menyambut kedatangannya?
Namun kini…
Ku tak mampu berbuat sesuatu
Karena, waktuku telah berakhir
Diriku berteriak, “Tuhan berilah Aku kesempatan!”
Hamba mohon…

Gazeboo, 10 Agustus 2009